
SINOPSIS
Pohon Kebena di Tanah Gaza
Langit Merah di Laut Gaza
“Jika aku mati di laut ini… biarkan dunia tahu kami datang membawa obat, kami membawa bahan makanan, dan cinta, kasih sayang. Bukan senjata. Untuk Gaza!”
Kalimat itu diucapkan Kamila Zaynab–wanita yang sempurna, indah, dan berani– di sun deck kapal misi kemanusiaan Armada Keteguhan Global untuk Gaza beberapa menit sebelum tentara Israel menyerbu. Ia tengah mencoba melakukan siaran langsung untuk liputan bagi medianya. Bagi masyarakat dunia.
Kapal kemanusiaan yang ia tumpangi itu tengah berlayar di Laut Mediterania menuju Gaza. Samudera yang menghitam hingga kaki cakrawala, dipayungi awan yang menggumpal, tidak sepenuhnya tenang. Ombak besar datang, tapi hawa maut justru berupa serdadu Zionis berwajah bengis.
Namun Kamila Zaynab, 28 tahun, jurnalis investigasi asal Indonesia berdarah Arab-Jawa, tidak takut. Perempuan ini dikenal sebagai jurnalis yang selalu berani menghadapi bahaya apa pun. Ia sudah mewakafkan hidupnya yang tenang dan nyaman untuk mengungkap kebenaran.
Cantik, cerdas, dan tajam dalam menulis, Kamila selalu berada di garis depan konflik kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Namun penugasannya mengikuti misi Armada Keteguhan menuju Gaza kali ini menjadi perjalanan paling berbahaya dalam hidupnya.
Di tengah malam gelap di perairan internasional, armada sipil mereka disergap kapal perang Israel. Drone berdengung di atas kepala. Sinyal komunikasi diputus. Aktivis dipukuli. Darah membasahi dek kapal.
Najwa yang nekat menyiarkan aksi kekerasan itu secara langsung membuat seorang komandan Israel murka. Ia ditangkap, diinterogasi, disiksa, dilecehkan, dan bahkan nyaris diperkosa oleh tentara Israel, lantaran dituduh sebagai mata-mata.
Namun di balik dinginnya lorong baja kapal militer Israel, seorang tentara bernama Eitan Levi, diam-diam melindunginya. Eitan bukan monster perang seperti yang Kamila bayangkan. Lelaki bermata abu-abu itu justru menyimpan luka dan kebencian terhadap perang yang memaksanya hidup sebagai tentara Zionis. Sebagài mesin kematian. Dengan cinta dia meruntuhkan batu karang kebencian yang ada pada Kamila/
Di ujung senjata yang terkokang, bom yang meledak, pengkhianatan, dan kematian, cinta tumbuh di antara dua manusia dari dunia yang saling bermusuhan. Tetapi di tanah yang dipenuhi darah dan dendam, apakah cinta cukup kuat untuk bertahan?

