TAMAT DI KBM: Gadis Ojol Itu Ternyata Sultan

Prolog 

Namaku Nafisah Az Zahra. Bagai buih, aku diombang-ambing gelombang dua lautan. Diayun tinggi dengan kemewahan sebagai putri angkat keluarga kaya, tapi takdirku sebagai gadis yang lahir dari keluarga miskin di sebuah desa Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, membuatku selalu ingin hidup mandiri. 

Hidup susah sudah biasa. Nikmati saja arusnya. Dihantam badai sudah lumrah. Meski aku lulusan terbaik dari kampus ternama di Surabaya, aku tetap kesulitan saat mencari kerja. Ijazahku dari kampus Kristen jadi masalah saat melamar kerja di sekolah atau kampus Islam. Sebaliknya, jilbabku juga menimbulkan kecurigaan saat melamar kerja di sekolah atau kampus Kristen. Aku hidup di tengah lautan toleransi semu. Pluralisme abu-abu. Namun aku bangga jadi gadis Ojol. 

“Tapi itu bukan duniamu, Nafisah?” Papa angkatku, Dominggus Lazuardi, pengusaha kaya, seorang Nasrani yang taat, selalu mengingatkan bahwa aku lulusan S2 terbaik dari kampus terbaik di Surabaya. 

“Kamu sudah waktunya jadi nahkoda kapal besar, bukan jadi buih yang ombang-ambing di sini!”

“Apa salahnya jadi ojol, Pa! Para ojol itu membuka pintu lebar untukku saat banyak orang menolak ijazah dan jilbabku!”

“Tidak ada yang salah. Papa hanya ingin menempatkan sesuatu pada tempatnya saja…”

Tidak ada yang salah. Maka, jalani semua dengan menikmati keindahannya, mensyukuri kepedihannya. Aku menikmati dengan segenap cinta. Cinta para ojol yang sangar dan kadang berkata kasar, cinta Arman yang menyusup di hatiku, cinta Papa dan Mama yang begitu mengharu-biru, cinta para pelanggan yang sering cerewet menjengkelkan, dan tentu saja cinta kedua orang tua kandungku di Jombang. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *