
PROLOG
Aku merasa bukan perempuan biasa. Seperti layaknya perempuan lain di lingkungan pesantren. Berbaju gamis dan berjilbab.
Aku putri seorang kiai besar di Sidoarjo, cucu dari ulama yang dikenal sebagai ahli tarekat dan penyembuh penyakit hati dan ruhani hingga penyakit jasmani.
Maka, sejak kecil, aku tumbuh dalam lingkungan penuh zikir, doa, dan pengajian. Rumah kami tak pernah sepi dari tamu yang datang mengharap berkah atau sekadar minta air doa. Tapi aku—Siti Qumairah—lahir dengan cara pandang yang berbeda.
Sejak remaja, aku sudah mencintai estetika. Bukan hanya keindahan rohani, tapi juga keindahan duniawi. Aku senang berdandan, mencintai high heels, tas kulit asli dan branded, busana dan parfum mewah, serta segala hal yang berkilau. Bukan karena aku lalai pada ajaran agama, tapi karena aku yakin: menjadi perempuan salehah bukan berarti harus terlihat kumuh dan pasrah dengan hidup yang biasa-biasa saja.
Ketika aku menikah dengan Abdul Basyir, banyak orang memujiku. Mereka bilang aku perempuan beruntung. Bagaimana tidak? Basyir adalah santri cerdas, wajahnya bersih dan tampan, setiap hari tak lupa mengaji atau membaca ayat-ayat suci Al Quran dengan tekun. Pokoknya, soal ibadah dan berbuat kebaikan, Basyir juara satu di daerahku. Apalagi dia juga pekerja keras.
Profesinya sebagai wartawan di sebuah harian komunitas muslim yang bergengsi, menambah nilai plus di kalangan umat. Basyir sungguh santri kesayangan pesantren. Dan setelah menikah denganku, dia menjadi menantu idaman bagi keluargaku. Bahkan, orang-orang mulai memanggilnya “Gus Basyir”. Gus itu merujuk pada putra kiai.
Tapi hidup tak sesederhana pujian orang lain. Di balik senyum kami di pelaminan dulu, tersembunyi jurang gaya hidup yang tak pernah bisa kami jembatani. Basyir tetap dengan sarungnya, sandal jepitnya, songkok hitam, baju kokonya yang monoton. Sementara aku ingin naik mobil bagus, minum kopi di kafe estetik, ikut seminar bisnis di hotel berbintang, bergaul dengan pejabat, pebisnis, ekspatriat, dan punya penghasilan sendiri yang besar.
Hubungan kami semakin parah, tatkala Basyir ternyata mewarisi ilmu spiritual dari gurunya, yang tak lain abiku sendiri, KH Abdusshomad. Semakin lama dia semakin larut dalam dunia yang aku anggap tak ubahnya seorang dukun itu.
Rumah kami pun berubah jadi tempat ruqyah, tempat orang kesurupan, tempat pasien datang malam-malam untuk minta dibukakan aura jodoh. Aku mulai kehilangan ruang pribadi, kehilangan kenyamanan sebagai istri, dan yang paling menyakitkan, kehilangan rasa cinta.
Aku perempuan. Aku butuh dicintai, dipuji, dihargai, dan dilihat sebagai manusia yang berhak punya mimpi. Tapi Basyir terlalu larut dalam dunia batinnya. Ia lebih sibuk dengan pasien-pasiennya daripada dengan aku dan anak-anak kami. Aku bicara, dia diam. Aku menangis, dia malah mengambil air wudhu dan shalat malam. Lama-lama, aku merasa seperti bukan istri, hanya pelengkap.
Dan ketika aku mulai belajar bisnis kecil-kecilan, membuka kafe, menjual produk herbal dan kopi rempah, ternyata aku larut dalam aromanya. Awalnya Basyir mendukung. Uangnya yang cukup banyak dari hasil perdukunannya, diberikan kepadaku untuk mengembangkan kafe. Jadilah, kafeku semakin besar, luas, lengkap, dan pengunjungnya ramai. Namun Basyir merespon sebaliknya. Dia justru curiga.
“Kok banyak cowok nongkrong di tempatmu?” tanyanya dingin. Dia mulai menasihati panjang lebar, mulai dari kewajiban menutup aurat hingga batasan interaksi dengan pengunjung. Aku protes dalam hati. Kenapa ketika dia melayani pasien perempuan tak pernah bertanya? Apa bedanya?
Protes dalam hati itu menggelora. Berubah jadi api. Membakar cinta kami. Apalagi di depan pelupuk mata, banyak laki-laki berdatangan menawarkan senyum. Menyodorkan cinta yang membuat siapa pun bisa terlena. Termasuk diriku. Akun pun terpedaya.
Rumah kami berubah jadi panas. Konflik terjadi hampir setiap hari–meski semua itu berawal dari semua protesku. Basyir menanggapi dengan diam.
Aku tahu, sebagai anak kiai, perceraian adalah aib. Tapi bagiku, tetap bersama dengan hati yang mati, lebih menyakitkan dari segala aib. Aku sudah mencoba bertahan. Tapi ternyata kami tak bisa disatukan—bukan oleh cinta, bukan oleh anak, bukan oleh agama, bahkan bukan oleh keluarga besar.
Hari ini, aku duduk di ruang sidang Pengadilan Agama Sidoarjo. Mengenakan gamis putih elegan, dengan jilbab sutra dan riasan tipis. Hatiku dingin, tapi mataku panas. Di seberangku, Basyir menatap kosong ke arah hakim. Wajahnya seperti biasa, tanpa emosi. Tapi aku tahu, hatinya sedang bergetar. Begitu pula hatiku.
Putusan cerai akan dibacakan sebentar lagi. Kami akan resmi berpisah. Dan aku tak tahu, apakah aku harus menangis karena kehilangan, atau tersenyum karena akhirnya merdeka dari belenggu yang selama ini membunuh bahagiaku perlahan.
Aku hanya tahu satu hal. Aku bukan perempuan biasa. Aku hanya perempuan yang ingin hidup dengan caraku sendiri.
