
Ketika Si Kembar Terbelah Takdir
PROLOG
“Aku bukan kamu, Nayla! Aku tidak pernah ingin jadi kamu. Tapi kenapa kamu selalu menganggap aku sebagai ancaman?”
Ucapan itu akhirnya meluncur juga dari mulut Nisa, lirih tapi tajam, seperti ujung jarum yang menembus kulit. Sakit. Juga perih, seperti disayat sembilu.
Nisa Utami memalingkan wajah, tapi dia tak bisa menyembunyikan air mata yang menggantung di pelupuk dan kemudian terjatuh. Setegar apa pun, gadis ini tetap saja dicekam kesedihan yang mendalam bila harus selalu bermusuhan dengan saudari kembarnya.
Di ruang tamu rumah besar milik orang tua mereka yang dingin, dua saudara kembar itu berdiri berhadapan, dengan jarak yang lebih lebar dari sekadar langkah kaki—jarak yang dibentuk oleh luka yang dalam, kecemburuan yang membuta, dan cinta yang tidak adil.
Di tangan Nayla, undangan pernikahan itu bergetar. Nama yang tertulis di sana: Revan Mahendra & Nisa Kamila. Kertas itu seperti terbakar oleh amarah, kebencian yang memuncak di antara kakak beradik, yang terbelah oleh takdir.
Nisa Kamila dan Nayla Mehendra yang seharusnya saling melengkapi, lantaran keduanya dibentuk oleh segumpal darah yang sama, ditakdirkan berbeda arah. Tapi kemudian nasib mereka dipertemukan di persimpangan jalan yang absurd, hingga mereka memercikkan rivalitas yang abadi.
Lalu akankah Nisa bisa bertahan? Akankah Nayla terus menggempur pertahanan sang adik yang seakan rapuh tapi ternyata sangat tangguh? Bagaimana pula dengan kedua orang tua mereka? Neneknya? Dan orang-orang yang mengitarinya? Bagaimana pula sikap pria tampan yang jadi rebutan di antara mereka? Ikuti kisah si kembar yang terbelah oleh takdir ini.
