Selingkuh Ketika Setan Dibelenggu

PROLOG

“Selingkuh itu indah… seindah Bulan yang dulu pernah hampir jadi milikku.”

Kalimat itu meluncur santai dari bibir Arya Pamenang, seolah yang ia bicarakan hanya cuaca sore hari, bukan dosa yang bisa menyeret seseorang ke jurang kehancuran.

Sugiharto langsung terbatuk keras. Abdul Kholiq memijat pelipis.

“Ini Ramadhan, Ya..!,” gumam Kholiq pelan, biji tasbihnya bergerak pelan di sela jari. “Mulut dijaga sedikit.”

Arya justru tertawa. “Justru itu, Liq. Katanya di bulan Ramadhan setan dibelenggu, kan? Harusnya manusia jadi lebih baik. Lebih suci. Lebih kuat.”

Ia berhenti sejenak. Matanya menatap keluar jendela kafe yang berdiri tepat di bawah pohon beringin tua halaman sekolahan SDN Beringinharjo—tempat masa kecil mereka dulu.

“Tapi anehnya…”suara Arya merendah,“kenapa keinginan selingkuhku tidak ikut dibelenggu?”

Hening. Sugiharto menatap tajam. Kholiq melongo. Ada apa dengan selingkuh?

“Kamu masih ingat Bulan Savitri?”Arya tersenyum. Senyum yang terlalu tenang untuk seorang duda yang pernah kehilangan istri dan anaknya dalam kecelakaan yang sangat tragis.

“Cantik. Lembut. Dulu dia suka aku.”Arya menyeruput kopinya. “Sekarang dia sudah bersuami, punya anak, dan… makin sulit dilupakan.”

Abdul Kholiq menghela napas panjang. Ia geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang sukses jadi orang kaya di kota ini kumat–kambuh penyakit lamanya.

“Dia istri orang, Ya…”

Arya mengangkat bahu. “Setan yang dibelenggu, Liq, bukan perasaan ini…”

Kalimat itu menggantung di udara. Lebih berat dari azan yang sebentar lagi berkumandang.

Di bawah rindangnya pohon beringin Desa Beringinharjo, tiga sahabat lama ini kembali dipertemukan oleh Ramadhan. Arya yang seorang CEO kecanduan perempuan. Sugiharto seorang politisi yang akrab dengan mainan proyek. Dan Abdul Kholiq  seorang takmir masjid yang dipercaya jamaah… tapi diam-diam juga sedang melawan godaan di lingkungan masjid atas dirinya sendiri.

“Kita buat challenge saja,” ujar Arya tiba-tiba.

“Challenge apaan?” Sugiharto menyipit.

“Challenge Ramadhan.”

Arya tersenyum tipis. “Siapa yang paling tahan godaan… sampai Idul Fitri.”

Abdul Kholiq menatap langit yang mulai menggelap. Entah kenapa dadanya mendadak sesak. Karena ia sadar satu hal: Kalau setan benar-benar dibelenggu di bulan suci…lalu siapa yang selama ini menggoda hati mereka?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *